Sabtu, 25 Desember 2010

Plasenta Previa: Perdarahan Antepartum


DEFINISI
Plasenta Previa adalah merupakan perdarahan antepartum pada trimester ketiga. Perdarahan yang terjadi pada implantasi plasenta, yang menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum.

Klasifikasi Plasenta Previa
Kita membagi plasenta previa sebagai berikut:

a. Plasenta previa totalis:
- Menutupi osteum uteri internum seluruhnya pada pembukaan 4 cm.
- Plasenta previa sentralis adalah salah satu bentuk penutupan yang sentral plasenta sesuai atau identik dengan garis tengah osteum uteri internum.
b. Plasenta previa lateralis, bila menutupi osteum uteri internum sebagian pada pembukaan 4 cm.
c. Plasenta previa marginalis, bila tepi plasenta berada pada tepi osteum uteri internum pada pembukaan 4 cm.
d. Plasenta previa letak rendah, bila tepi bawah plasenta masih dapat disentuh dengan jari, melalui osteum uteri internum pada pembukaan 4 cm.

Kadang-kadang dipergunakan istilah plasenta previa sentralis, dan istilah yang dimaksud ialah plasenta yang terletak sentral, terhadap ostium uteri intemum.
Penentuan macamnya plasenta previa bergantung pada besarnya pembukaan, misalnya plasenta previa marginalis pada pembukaan 2 cm dapat menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm. Begitu pula plasenta previa totalis pada pembukaan 3 cm, dapat menjadi lateralis pada pembukaan 6 cm.

Oleh karena itu, penentuan macamnya plasenta previa harus disertai dengan keterangan mengenai besarnya pembukaan, misalnya plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm. Terdapat sate kelompok yang tidak dimasukkan ke dalam plasenta previa, yaitu plasenta letak rendah—plasenta yang implantasinya rendah, tetapi tidak sampai ke ostium uteri internum.

Dengan kemajuan diagnostik, plasenta previa dapat dibedakan dengan jelas dari plasenta letak rendah. Bila plasenta previa sentralis ditegakkan secara ultrasonografi pada trimester terakhir kehamilan, kita tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan klinis di kamar operasi dan operasi dapat segera dilakukan.

INSIDENSI
Kejadian plasenta previa bervariasi antara 0,3-0,5% dari seluruh kelahiran. Dari seluruh kasus perdarahan antepartum, plasenta previa merupakan penyebab yang terbanyak. Oleh karena itu, pada kejadian perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan lebih dahulu.

ETIOLOGI
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi desidua. Keadaan ini bisa ditemukan pada:
1. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri.
3. Kure tasi yang berulang.
4. Umur lanjut.
5. Bekas seksio sesarea.
6. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada perokok beraf(lebih dari 20 batang sehari).

Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum. Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri internum.

Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan yang luas, seperti pada eritroblastosis, diabetes melitus, atau kehamilan multipel.

TANDA DAN GEJALA
1. Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri.
Pasien mungkin berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun; baru waktu ia bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya perdarahan karena plasenta previa baru timbul setelah bulan ke tujuh. Hal ini disebabkan oleh:
a. Perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dari abortus.
b. Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim. Keterangannya sebagai berikut:

Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi rahim lebih cepat tumbuhnya dari rahim sendiri; akibatnya istmus uteri tertarik menjadi bagian dinding korpus uteri yang disebut segmen bawah rahim. Pada plasenta previa, tidak mungkin terjadi tanpa pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan bergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada istmus uteri. Jadi, dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan, tetapi sudah jelas dalam persalinan his pembukaan menyebabkan perdarahan karena bagian plasenta di atas atau dekat ostium akan terlepas dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena terlepasnya plasenta dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang-ulang karena setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Oleh karena itu, regangan dinding rahim dan tarikan pada serviks berkurang, tetapi dengan majunya kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru. Darah terutama berasal dari ibu ialah dari ruangan intervilosa, tetapi dapat juga berasal dari anak jika jonjot terputus atau pembuluh darah plasenta yang lebih besar terbuka.

2. Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pinto atas panggul.
3. Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada plasenta previa lebih sering disertai kelainan letak jika perdarahan disebabkan oleh plasenta previa lateral dan marginal serta robekannya marginal, sedangkan plasenta letak rendah, robekannya beberapa sentimeter dari tepi plasenta.

Juga harus dikemukakan bahwa pada plasenta previa mungkin sekali terjadi perdarahan pasca persalinan karena:
1. Kadang-kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim (plasenta akreta).
2. Daerah perlekatan luas.
3. Kontraksi segmen bawah rahim kurang sehingga mekanisme pentt tupan pembuluh darah pada insersi plasenta tidak baik.

Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada ostium, dan merupakan porte d' entree yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien biasanya anemis karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah.

Bahaya untuk ibu pada plasenta previa, yaitu:
I. Syok hipovolemik.
2. Infeksi—sepsis.
3. Emboli udara (jarang).
4. Kelainan koagulopati sampai syok.
5. Kematian.

Bahaya untuk anak, yaitu:
1. Hipoksia.
2. Anemi.
3. Kematian.

BAHAYA-BAHAYA PEMERIKSAAN
Perdarahan yang terjadi pada seorang wanita hamil trimester ketiga harus dipikirkan penyebabnya, yaitu: plasenta previa atau solusio plasenta. Bila ditemukan, dokter atau bidan harus segera mengirim pasien tersebut selekas mungkin ke rumah sakit besar tanpa terlebih dulu melakukan pemeriksaan dalam atau pemasangan tampon. Kedua tindakan ini hanya akan menambah perdarahan dan kemungkinan infeksi.

Karena perdarahan pada wanita hamil kadang-kadang disebabkan oleh varises yang pecah dan kelainan serviks (polip, erosi, ca), di rumah sakit dilakukan pemeriksaan in speculo terlebih dulu untuk menyingkirkan kemungkinan ini. Pada plasenta previa akar, terlihat darah yang keluar dari ostium uteri ekstemum.

Sebelum tersedia darah dan kamar operasi siap, tidak boleh dilakukan pemeriksaan dalam karena pemeriksaan dalam ini dapat menimbulkan perdarahan yang membahayakan. Dapat juga dilakukan pemeriksaan fornises dengan hati-hati. Jika tulang kepala dapat teraba dengan mudah, kemungkinan plasenta previa kecil. Sebaliknya, jika antara jari-jari kita dan kepala teraba bantalan lunak (jaringan plasenta), kemungkinan plasenta previa besar sekali. Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada presentasi kepala karena pada letak sungsang bagian terendahnya lunak (bokong) hingga sukar membedakannya dari jaringan lunak plasenta.

DIAGNOSIS
Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan berulang. Klinis kelainan letak dari perabaan fornises teraba bantalan lunak pada presentasi kepala. Pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan bila dilakukan di kamar operasi yang telah siap untuk melakukan operasi segera. Secara "double set-up" ini hanya dilakukan apabila akan dilakukan terapi aktif, yaitu apabila kehamilan akan diterminasi.

Diagnosis plasenta previa (dengan perdarahan sedikit) yang diterapi ekspektatif ditegakkan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dengan pemeriksaan USG transabdominal ketepatan diagnosisnya mencapai 95-98%. Dengan USG transvaginal atau transperineal ( translabial), ketepatannya akan lebih tinggi lagi. Penggunaan magnetic resonance imaging (MRI) masih terasa sangat mahal pada saat ini.
Dengan bantuan USG, diagnosis plasenta previa /letak rendah sering kali sudah dapat di tegakkan sejak dini sebelum kehamilan trimester ketiga. Namun, dalam perkembangannya dapat terjadi migrasi plasenta. Sebenarnya, bukan plasenta yang "berpindah", tetapi dengan semakin berkembangnya segmen bawah rahim, plasenta (yang berimplantasi di situ) akan ikut naik menjauhi ostium uteri internum
Sikap untuk segera mengirim pasien ke rumah sakit (yang mempunyai fasilitas operasi) tanpa lebih dulu melakukan pemeriksaan dalam atau pemasangan tampon sangat dihargai, hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa:
1. Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang membawa maut.
2. Pemeriksaan dalam dapat menimbulkan perdarahan yang hebat.

Dalam keadaan terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkut ke kota/rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat harus segera diambil maka seorang dokter atau bidan dapat melakukan pemeriksaan dalam setelah melakukan persiapan yang secukupnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan yang banyak.

TERAPI
Pengobatan plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu:
1. Terminasi. Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang membawa maut, misalnya: kehamilan cukup bulan, perdarahan banyak, parturien, dan anak mati (tidak selalu).
a. Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada plasenta, yang dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang terbuka (tamponade pada plasenta).
b. Dengan seksio sesarea, dimaksudkan untuk mengosongkan rahim hingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Seksio sesarea juga mencegah terjadinya robekan serviks yang agak sering terjadi pada persalinan per vaginam.
2. Ekspektatif. Dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia luar baginya kecil sekali. Sikap ekspektatif tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu baik dan perdarahan sudah berhenti atau sedikit sekali.

Dahulu ada anggapan bahwa kehamilan dengan plasenta previa harus segera diakhiri untuk menghindarkan perdarahan yang fatal. Namun, sekarang ternyata terapi menunggu dapat dibenarkan dengan alasan sebagai berikut:
1. Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang fatal.
2. Untuk menurunkan kematian bayi karena prematuritas.

Syarat bagi terapi ekspektatif ialah bahwa keadaan ibu dan anak masih baik (Hb-nya normal) dan perdarahan tidak banyak. Pada terapi ekspektatif, pasien di rawat di rumah sakit sampai berat anak ±2500 gr atau kehamilan sudah sampai 37 minggu. Selama terapi ekspektatif diusahakan untuk menentukan lokalisasi plasenta dengan pemeriksaan USG dan memperbaiki keadaan umum ibu. Jika kehamilan 37 minggu telah tercapai, kehamilan diakhiri menurut salah satu cara yang telah diuraikan.

Penderita plasenta previa juga harus diberikan antibiotik mengingat kemungkinan terjadinya infeksi yang besar disebabkan oleh perdarahan dan tindakan-tindakan intrauterin. Jenis persalinan apa yang kita pilih untuk pengobatan plasenta previa dan kapan melaksanakannya bergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:
1. Perdarahan banyak atau sedikit
2. Keadaan ibu dan anak
3. Besarnya pembukaan
4. Tingkat plasenta previa
5. Paritas

Perdarahan yang banyak, pembukaan kecil, nulipara, dan tingkat plasenta previa yang berat mendorong kita melakukan seksio sesarea. Sebaliknya, perdarahan yang sedang/sedikit, pembukaan yang sudah besar, multiparitas dan tingkat plasenta previa yang ringan, dan anak yang mati cenderung untuk dilahirkan per vaginam. Pada perdarahan yang sedikit dan anak yang masih kecil (belum matur) dipertimbangkan terapi ekspektatif. Perlu diperhatikan bahwa sebeium melakukan tindakan apapun pada penderita plasenta previa, harus selalu tersedia darah yang cukup.

Cara-cara vaginal terdiri dari:
1. Pemecahan ketuban.
2. Versi Braxton Hicks.
3. Conan Willett-Gauss.

PEMECAHAN KETUBAN
Dapat dilakukan pada plasenta letak rendah, plasenta previa marginalis, dan plasenta previa lateralis yang menutup ostium kurang dart setengah bagian. Pada plasenta previa lateralis yang plasentanya terdapat di sebelah belakang, lebih baik dilakukan seksio sesarea karena dengan pemecahan ketuban, kepala kurang menekan pada plasenta. Hal ini disebabkan kepala tertahan promontorium, yang dalam hal ini dilapisi lagi oleh jaringan plasenta.

Pemecahan ketuban dapat menghentikan perdarahan karena:
1. Setelah pemecahan ketuban, uterus mengadakan retraksi hingga kepala anak menekan pada plasenta.
2. Plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan dinding rahim hingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim.
Jika his tidak ada atau kurang kuat setelah pemecahan ketuban, dapat diberikan infus pitosin. Jika perdarahan tetap ada, dilakukan seksio sesarea.

VERSI BRAXTON HICKS
Tujuan dari perasat Braxton Hicks ialah untuk mengadakan tamponade plasenta dengan bokong dan untuk menghentikan perdarahan dalam rangka menyelamatkan ibu. Versi Braxton Hicks biasanya dilakukan pada anak yang sudah mati ataupun masih hidup. Mengingat bahayanya, yaitu robekan pada serviks dan pada segmen bawah rahim, perasat ini tidak mempunyai tempat lagi di rumah sakit yang besar. Akan tetapi, dalam keadaan istimewa, misalnya jika pasien berdarah banyak, anak sudah meninggal dan kita mendapat kesulitan memperoleh darah atau kamar operasi masih lama siapnya maka cara Braxton Hicks dapat dipertimbangkan.

Sebaliknya, di daerah yang tidak mungkin untuk melakukan seksio sesarea, misalnya di pulau-pulau kecil, cara Braxton Hicks dapat menggantikan seksio sesarea. Syarat untuk melakukan versi Braxton Hicks ialah pembukaan yang harus dapat dilalui oleh 2 jari supaya dapat menurunkan kaki.

TEKNIK
Dilakukan setelah ketuban dipecahkan atau setelah plasenta ditembus tangan yang sepihak dengan bagian-bagian yang kecil masuk. Setelah labia dibeberkan, satu tangan masuk secara obstetri dan 2 jari (telunjuk dan jari tengah) masuk ke dalam kavum uteri. Tangan satunya menahan fundus. Kepala anak ditolak ke samping yaitu ke pihak punggung anak. Tangan luar mendekatkan bokong kepada jari yang mencari kaki. Setelah kaki didapatkan oleh tangan dalam, tangan luar menolak kepala anak ke fundus dan kaki dibawa ke luar. Pada kaki ini digantungkan timbangan yang seringan-ringannya, tetapi cukup berat untuk menghentikan perdarahan. Jika beratnya berlebihan, mungkin terjadi robekan serviks. Selanjutnya, kita tunggu sampai anak lahir sendiri. Sekali-kali jangan melakukan ekstraksi walaupun pembukaan sudah lengkap, mengingat mudahnya terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim.

CUNAM WILLETT-GAUSS
Tujuannya ialah untuk mengadakan tamponade plasenta dengan kepala. Kulit kepala anak dijepit dengan cunam Willett-Gauss dan diberati dengan timbangan 500 gr. Perasat ini sekarang hampir tidak pernah dilakukan lagi.

SEKSIO SESAREA

Tujuan melakukan seksio sesarea adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Robekan pada serviks dan segmen bawah rahim mudah terjadi bila anak dilahirkan per vaginam karena daerah tersebut pada plasenta previa banyak mengandung pembuluh darah. Seksio sesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Tindakan seksio sesarea pada plasenta previa, selain dapat mengurangi kematian bayi, terutama juga dilakukan untuk kepentingan ibu. Oleh karena itu, seksio sesarea juga dilakukan pada plasenta previa walaupun anak sudah mati.


Daftar Pustaka Makalah Plasenta Previa
- Obstetri Patologi
- Kapita selekta penatalaksanaan rutin obstetri, ginekologi, dan KB Oleh Ida Bagus Gde Manuaba

Kamis, 23 Desember 2010

Konsep kuliah Phantom

Konsep kuliah Phantom dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Tujuan
Melatih untuk memecahkan persoalan obstetri sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat waktu dan indikasi sehingga tercapai tujuan umum pertolongan persalinan, yaitu:
- well born baby, dan
- well health mother.

b. Untuk dapat mencapai sasaran tersebut, dijabarkan beberapa langkah dasar sebagai berikut:

1) Primum non-Nocere/first do no harm.
Melakukan tindakan dengan keterampilan yang didasari oleh ilmu pengetahuan dan teknologi obstetri, serta dengan memperhatikan faktor-faktor ibu dan janin yang berkaitan dengan berbagai aspek sosial keluarga.
Perhatian terhadap aspek sosial di lingkungan keluarga dapat dikembangkan menjadi ilmu obstetri sosial sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan perinatal karena hal itu dapat menjadi faktor penyebab kematian tidak langsung dan penyebab kematian antara.

2) Meninggalkan operasi heroik yang banyak menimbulkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal, seperti:
- versi ekstraksi;
- ekstraksi forsep tengah dan tinggi;
- trial vakum ekstraksi untuk membuktikan terdapat sefalopelvis disproporsi.

3) Mengurangi kemungkinan infeksi dan mempergunakan evaluasi pertolongan persalinan partogram WHO dengan segala keuntungan dan kerugiannya.
Menurut Friedmann, evaluasi jalan persalinan dilakukan pada kasus kehamilan risiko tinggi atau meragukan.

4) Untuk menghindari komplikasi, hal-hal yang perlu dilakukan, yaitu:
- mempersiapkan pertolongan persalinan yang cukup;
- melakukan resusitasi maternal dan janin intrauterin;
- melakukan referal pada waktu yang tepat;
- melakukan perhitungan terhadap faktor risiko maternal dan perinatal.
- dilakukan evaluasi dengan mempergunakan alat canggih seperti USG, KTG, aspirasi air ketuban dan pemeriksaan lainnya.

c. Mengenal dengan pasti tahap-tahap persalinan normal:

1) Kala pertama
- Pada primigravida dengan panggul normal, kepala janin harus telah masuk PAP pada minggu ke-36.
- Penyimpangan dari keadaan tersebut, ada kemungkinan:
- terdapat SPD (Sefalopelvis Disproporsi);
- lilitan tali pusat (deteksi dengan USG) atau tali pusat pendek;
- kemungkinan plasenta previa atau letak rendah.
- Ketuban pecah saat mendekati atau pembukaan lengkap:
- ketuban pecah menimbulkan tekanan kepala bertambah dan mengenai fleksus Frankenhousen, sekitar insersi ligamentum uterosakralis pada uterus;
- tekanan fleksus menimbulkan refleks mengejan sehingga anus mulai terbuka.

2) Kala kedua—pengusiran
- Kepala crowning 5 cm dengan perineum tipis dilakukan episiotomi.
- Kepala ekspulsi mulai dari UUB-dahi, hidung, mulut, dan
dagu.
- Terjadi putar paksi luar, penyesuaian kepala terhadap punggung bayi yang masuk jalan lahir.
- Bayi dilahirkan sebagaimana mestinya.

3) Kala plasenta (Uri)
- Inspeksi bahwa plasenta telah lepas dari insersinya.
- Tes lepasnya plasenta menurut:
- Kusner.
- Strassman.
- Klein.
- Manuaba.
- Persalinan plasenta menurut Crede.

4) Kala keempat
Observasi 2 jam pertama postpartum karena paling banyak terjadi komplikasi perdarahan postpartum.

Daftar Pustaka
Kepaniteraan Klinik Obsterri & Ginekologi

Senin, 20 Desember 2010

Polihidramnion dan Oligohidramnion

POLIHIDRAMNION = HIDRAMNION
Air ketuban yang paling banyak pada minggu ke-38 ialah 1030 cc, pada akhir kehamilan tinggal 790 cc, dan terus berkurang sehingga pada minggu ke-43 hanya 240 cc. Pada akhir kehamilan seluruh air ketuban diganti dalam 2 jam berhubung adanya produksi dan pengaliran. Apabila melebihi 2000 cc, disebut polihidramnion atau dengan singkat hidramnion.

Kita mengenal 2 macam hidramnion, yaitu:

1. Hidramnion yang kronis—penambahan air ketuban perlahan-lahan, berangsur-angsur. Ini bentuk yang paling umum.
2. Hidranmion yang akut—Penambahan air ketuban terjadi dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada kehamilan muda pada bulan ke-4 atau ke-5.

Hidramnion sering terjadi pada:
a. Cacat janin terutama pada anensefal dan atresia esofagus.
b. Kehamilan kembar.
c. Beberapa penyakit, seperti diabetes, preeklampsi, eklampsi, eritroblastosis fetalis.

Etiologi
Etiologi hidramnion belum jelas.
Secara teori hidramnion bisa terjadi karena:
1 Produksi air ketuban bertambah—Diduga menghasilkan air ketuban ialah epitel amnion, tetapi air ketuban dapat juga bertambah karena cairan lain masuk ke dalam ruangan amnion, misalnya air kencing anak atau cairan otak pada anensefal.
2. Pengaliran air ketuban terganggu—Air ketuban yang telah dibuat dialirkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu jalan pengaliran ialah ditelan oleh janin, diabsorpsi oleh uses dan dialirkan ke plasenta, akhirnya masuk ke dalam peredaran darah ibu. Jalan ini kurang terbuka kalau anak tidak menelan, seperti pada atresia esofagus, anensefal, atau tumor-tumor plasenta.

Pada anensefal dan spina bifida diduga bahwa hidramnion terjadi karena transudasi cairan dari selaput otak dan selaput sumsum belakang.
Selain itu, anak anensefal tidak menelan. Pada kehamilan ganda mungkin disebabkan oleh salah satu janin pada kehamilan satu telur jantungnya lebih kuat, dan karena itu juga, menghasilkan banyak air kencing. Mungkin juga karena luasnya amnion lebih besar pada kehamilan ganda.
Pada hidramnion sering di temukan plasenta yang besar.

Gejala-gejala
Gejala-gejala disebabkan oleh tekanan oleh uterus yang sangat besar pada alat sekitarnya maka timbul:
1. Sesak napas.
2. Edema labia, vulva, dan dinding perut.
3. Regangan dinding rahim sendiri menimbulkan nyeri. Gejala-gejala lebih menonjol pada hidramnion yang akut.
4. Palpasi anak sulit.
5. Bunyi jantung sulit terdengar.

Diagnosis
Hidramnion harus dibedakan dari asites, kista ovarium, dan mola hidatidosa.
Untuk membantu diagnostik dan untuk mencari etiologi dibuat foto Rontgen atau ultrasonogram yang dapat memperlihatkan anensefal dan kehamilan ganda.

Prognosis
Untuk anak kurang baik walaupun pada foto rontgen tidak tampak kelainan. Penyebab prognosis yang kurang baik, yaitu:
1. Cacat bawaan.
2. Persalinan kurang bulan.
3. Prolapsus tali pusat.
4. Eritroblastosis, preeklamsi, dan diabetes.

Bahaya yang perlu diperhatikan, dapat terjadi:
1. Solusio plasenta.
2. Inersia uteri.
3. Perdarahan pascapersalinan.

Pengobatan
Hidramnion yang ringan tidak memerlukan terapi, dapat diberi sedatif dan diet pantang garam kalau perlu.
Apabila ada dispneu dan pasien sukar berjalan sebaiknya ia dirawat.
Di rumah sakit ia diberikan istirahat rebah dan sedatif serta apabila pasien sangat menderita dan kurang tertolong dengan usaha-usaha tersebut di atas dapat dilakukan punksi selaput janin melalui serviks atau dinding perut.

Cairan hendaknya dikeluarkan dengan perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya solusio plasenta.
Punksi biasanya disusul dengan persalinan.

OLIGOHIDRAMNION
Jika air ketuban kurang dari 500 cc, disebut oligohidramnion. Oligohidramnion kurang baik untuk pertumbuhan janin karena pertumbuhan dapat terganggu oleh perlekatan antara kulit janin dan amnion atau karena janin mengalami tekanan dinding rahim.

Gejala-gejala
1. Rahim lebih kecil dari sesuai dengan tuanya kehamilan.
2. Bunyi jantung anak sudah terdengar sebelum bulan ke-5 dan terdengar dengan lebih jelas (dengan stetoskop).
3. Pergerakan anak dirasakan nyeri oleh ibu dan sering berakhir dengan partus prematurus.

Diagnosis Banding
Ketuban pecah sebelum waktunya.

Pustaka
Obstetri Patologi

Tersedia juga makalah obstetri ginekologi lainnya seperti Pelayanan Desa siaga dan Kistoma Ovarii.

Sabtu, 18 Desember 2010

Etiologi dan Mekanisme KPD (Ketuban Pecah Dini)

Definisi Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan setelah ditunggu satu jam, belum ada tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut "kejadian ketuban pecah dini" (periode laten). Kondisi ini merupakan penyebab terbesar persalinan prematur dengan segala akibatnya. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan.

Insidensi
Insidensi KPD mendekati 10% dari semua persalinan, dan pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu, angka kejadiannya sekitar 4%. Sebagian dari KPD mempunyai periode lama melebihi satu minggu.

Etiologi
Penyebab KPD, meliputi hal-hal berikut.
1. Serviks inkompetcn
2. Ketegangan rahim berlebihan seperti pada kehamilan ganda, hi-dramnion
3. Kelainan letak janin dalam rahim seperti letak sungsang, letak lintang
4. Kemungkinan kesempitan panggul seperti perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP (pintu atas panggul), disproporsi sefalopelvik
5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.

KPD terjadi akibat mekanisme sebagai berikut:
1. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.
2. Jika terjadi pembukaan serviks, selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

Pustaka
Seri Asuhan Kebidanan: Kehamilan Oleh Lily Yulaikhah, SSiT

Pelayanan Desa siaga

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan cumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Si (siap), yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap mendampingi ibu, siap menjadi donor darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk rujukan, siap membantu pendanaan, dan bidan wilayah kelurahan selalu siap memberi pelayanan.
A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah, dan komponen lainnya dengan cepat dan sigap mendampingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan jika memerlukan tindakan gawat-darurat.
Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat dan setelah ibu melahirkan serta menjaga kesehatan bayi yang baru dilahirkan.

Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Tujuan khususnya adalah sebagai berikut.

1. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
2. Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawatdaruratan dan sebagainya).
3. Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.

Ciri-ciri pokok
a. Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar.
b. Memiliki sistem gawat-darurat berbasis masyarakat.
c. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri.
d. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.

Sasaran pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran ini dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1. Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu • melaksanakan hidup sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader, serta petugas kesehatan.
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti kepala desa, camat, pejabat terkait, LSM, swasta, donatur, dan pemilik kepentingan lainnya.


Pustaka
Kebidanan Komunitas Oleh Safrudin, SKM, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes

Senin, 13 Desember 2010

Selaput Janin (Amnion Dan Korion)

Pada minggu-minggu pertama perkembangan, vili meliputi seluruh lingkaran permukaan korion. Dengan berlanjutnya kehamilan, viii pada kutub embrional membentuk struktur korion lebat seperti semak-semak (korion frondosum) sementara. Sementara itu, viii pada kutub embrional mengalami dcgenerasi, menjadi tipis dan halus disebut korion laeve.

Seluruh jaringan endometrium yang telah mengalami reaksi desidua, juga mencerminkan perbedaan kutub embrional dan abembrional, yaitu:
1. Desidua di atas korion frondosum menjadi desidua basalis.
2. Desidua yang meliputi embrioblas/kantong janin di atas korion laeve menjadi desidua kapsularis.
3. Desidua di sisi/bagian uterus yang abembrional menjadi desidua parietal is.

Antara membran korion dan membran amnion terdapat rongga korion. Dengan berlanjutnya kehamilan, rongga ini tertutup akibat menyatunya membran amnion dan membran korion. Selaput janin selanjutnya disebut sebagai membran korion-amnion (amniochorionic membranea). Kavum uteri juga terisi oleh konsepsi sehingga tertutup oleh menyatunya korion laeve dengan desidua parietalis.

CAIRAN AMNION
Rongga yang diliputi selaput janin disebut sebagai rongga amnion. Di dalam rongga ruangan ini terdapat cairan amnion (likuor amnii). Cairan amnion diperkirakan terutama disekresi oleh dinding selaput amnion atau plasenta yang kemudian setelah sistem urinarius janin terbentuk, urine janin yang diproduksi juga dikeluarkan ke dalam rongga amnion.

Fungsi cairan amnion:
1. Proteksi: melindungi janin terhadap trauma dari luar.
2. Mobilisasi: memungkinkan ruang gerak bagi janin.
3. Homeostasis: menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam-basa (pH) dalam rongga amnion untuk suasana lingkungan yang optimal bagi janin.
4. Mekanik: menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruangan intrauterin (terutama pada persalinan).
5. Pada persalinan, membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.

Keadaan normal cairan amnion:
1. Pada usia kehamilan cukup bulan, volume 1000-1500 cc.
2. Keadaan jernih agak keruh.
3. Steril
4. Bau khas, agak manis dan amis.
5. Terdiri atas 98-99% air, 1-2% garam-garam anorganik dan bahan organik (protein terutama albumin), runtuhan rambut lanugo, verniks kaseosa, dan sel-sel epitel.
6. Sirkulasi sekitar 500 cc/jam.

Kelainan jumlah cairan amnion:
1. Hidramnion (polihidramnion)
Air ketuban berlebihan (>2000 cc). Dapat mengarah pada kecurigaan kelainan kongenital susunan saraf pusat atau sistem pencernaan, atau gangguan sirkulasi, atau hiperaktivitas sistem urinarius janin.
2. Oligohidramnion
Air ketuban sedikit (<500 cc). Umumnya kental, keruh, berwarna kuning kehijauan. Prognosis janin buruk.

Pustaka
Seri Asuhan Kebidanan: Kehamilan Oleh Lily Yulaikhah, SSiT

Jumat, 10 Desember 2010

Larangan untuk memberikan ASI

Sekalipun upaya untuk memberikan ASI digalakkan tetapi pada beberapa kasus pemberian ASI tidak dibenarkan:

1. Faktor dari ibu.
• Ibu dengan penyakit jantung yang berat, akan menambah beratnya penyakit ibu.
• Ibu dengan pre-eklampsia dan eklampsia, karena banyaknya obat-obatan yang telah diberikan, sehingga dapat mempengaruhi bayinya.
• Penyakit infeksi berat pada payudara, sehingga kemungkinan menular pada bayinya.
• Karsinoma payudara mungkin dapat menimbulkan metastasis.
• Ibu dengan psikosis, dengan pertimbangan kesadaran ibu sulit diperkirakan sehingga dapat membahayakan bayi.
• Ibu dengan infeksi virus.
• Ibu dengan TBC atau lepra.

2. Faktor dari bayi.
• Bayi dalam keadaan kejang-kejang, yang dapat menimbulkan bahaya aspirasi ASI.
• Bayi yang menderita sakit berat, dengan pertimbangan dokter anak tidak dibenarkan untuk mendapatkan ASI.
• Bayi dengan berat badan lahir rendah, karena refleks menelannya sulit sehingga bahaya aspirasi mengancam.
• Bayi dengan cacat bawaan yang tidak mungkin menelan (labiokisis, palatognatokisis, labiognatopalatokisis).
• Bayi yang tidak dapat menerima ASI, penyakit metabolisme seperti alergi ASI.
Pada kasus tersebut di atas untuk memberikan ASI sebaiknya dipertim-bangkan dengan dokter anak.

3. Keadaan patologis pada payudara.
Pada rawat gabung dapat diharapkan bahwa kemungkinan stagnasi ASI yang dapat menimbulkan infeksi dan abses dapat dihindari. Sekalipun demikian masih ada keadaan patologis payudara yang memerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugikann ibu dan bayinya. Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi adalah:
• Infeksi payudara
• Terdapat abses yang memerlukan insisi
• Terdapat benjolan payudara yang membesar saat hamil dan menyusui
• ASI yang bercampur dengan darah.
Memperhatikan hal-hal yang disebutkan di atas sudah wajarlah bila payudara yang sangat vital dipelihara sebagaimana mestinya. Salah satu tugas utama wanita adalah memberikan ASI yang merupakan tugas alami yang hakiki.

Rabu, 08 Desember 2010

Kistoma Ovarii

KISTOMA OVARII
Ovarium mempunyai potensi besar untuk menjadi tumor neoplastik dan keganasan, di samping terjadi tumor yang timbul karena fungsinya dan disebut tumor non-neoplastik.

Tumor neoplastik dapat bersifat:
• Kistik ovarii dan solid tumor ovarii.
Di samping itu, terdapat tumor yang mengeluarkan hormonal, se- hingga dapat mengubah patrun menstruasi endometrium dengan me- nimbulkan berbagai gejala tambahan.

Gejala klinik tumor ovarium
1. Pembesaran tumor
• Benjolan dan menimbulkan ketidaknyamanan.
• Dapat menimbulkan gangguan miksi dan defekasi.
• Gangguan sirkulasi darah menimbulkan edema tungkai.

2. Aktivitas hormonal
a. Mengganggu patrun menstruasi:
• Stein leventhal:
• Amenore atau oligomenore.
• Hirsutisme.
• Infertilitas.
• Obesitas.
• Granulosa sel tumor:
• Hiperestrogenemia-hipermenore.
• Mungkin korpus karsinoma. .
• Mama hipertropi besar dan sakit.
• Arenoblastoma (sertoli leyding sel tumor).
• Mengeluarkan androgen.
• Defeminisasi:
- Amenore, lemak tubuh berkurang. - Atropi mama.
- Maskulisasi—perubahan suara.

3. Gejala akibat komplilcasi tumor
a. Perdarahan dalam kista:
• Perlahan menimbulkan rasa sakit.
• Mendadak terjadi akut abdomen.

b. Torsi tangkai kista:
- Terjadi saat hamil atau pascapartum.
- Terjadi akut abdomen.

c Robekan dinding kista:
- Trauma langsung pada kista ovarii.
- Terjadi saat torsi kista.
- Menimbulkan perdarahan dan akut abdomen.

d. Infeksi kista:
- Menimbulkan gejala dolor, kolor, dan fungsiolesa.
- Perut tegang dan panas.
- Laboratorium menunjukkan gejala infeksi.

e. Degenerasi ganas:
- Keganasan ovarium silent killer. Diketahui setelah stadia lanjut, sedangkan perubahannya tidak jelas.
- Gejala keganasan kista ovarii:
• Tumor cepat membesar.
• Berbenjol-benjol.
• Terdapat asites.
• Tubuh bagian atas kering, sedangkan bagian bawah terjadi edema tungkai.

f. Sindrom Meig dan sindrom pseudo Meig:
- Asites hidrothorak.
- Fibroma ovarii.

Dasar diagnosis
a. Berdasarkan keluhan:
- Discomfort perut bagian bawah.
Teraba benjolan pada perut bawah.

b. Pemeriksaan teraba tumor di luar uterus:
- Terpisah dengan uterus di luar uterus atau masih melekat.
- Konsistensi kistik atau solid.
- Permukaan dapat rata atau berbenjol-benjol.
- Masih dapat digerakkan atau terfiksir.

c. Dengan pemeriksaan tambahan:
- Ultrasonografi.
- Laparoskopi.
- Parasintesis cairan asites.
- Pemeriksaan rontgen.

Prinsip menghadapi tumor ovarium
a. Operasi untuk mengambil tumor: Dapat menjadi besar.
- Kemungkinan degenerasi ganas.
b. Saat operasi dapat didahului frozen section, untuk kepastian ganas dan tindakan operasi Iebih lanjut.
c. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian klasifikasi tumor dapat ditetapkan, untuk menentukan terapi.
d. Operasi tumor ganas diharapkan "debulking" (sitoreductive). - Pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor sampai dalam Batas aman, diameter sekitar 2 cm.
- Lakukan TAH + Bil OS omentektomi.
e. Setelah mendapatkan radiasi atau kemoterapi dapat dilakukan operasi kedua, untuk mengambil sebanyak mungkin jarirwan tumor.
f. Kistoma ovarii di atas umur 45 tahun, sebaiknya dilakukan operasi profilaksis:
- TAH + Bil SO.
- Omentektomi.

Pustaka
Kapita selekta penatalaksanaan rutin obstetri, ginekologi, dan KB Oleh Ida Bagus Gde Manuaba

Presentasi Bokong (Breech Presentation)

PRESENTASI BOKONG (BREECH PRESENTATION)
Definisi Presentasi Bokong (Breech Presentation) adalah Presentasi janin dalam uterus, terutama bokong.
Jenis presentasi terdiri dari bokong nyata (frank breech), bokong penuh (complete breech), presentasi kaki (footling presentation).

Etiologi
Presentasi bokong mungkin disebabkan oleh beberapa keadaan yang mencegah versi normal terjadi.

Penatalaksanaan
A. Sebelum 30-32 minggu kehamilan: Tidak signifikan

B. Saat 30-32 minggu kchamilan: Insidens—sebesar 14% janin mengalami presentasi bokong
1. Diskusikan dengan pasien implikasi presentasi bokong saat ini dan saat cukup bulan
2. Diskusikan tanda-tanda bahaya
3. Pastikan pasien mengetahui bahwa pasien berhak mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan mengenai posisi bayinya yang mengalami presentasi bokong
4. Anjurkan pasien melakukan latihan memutar bokong

C. Pada 36 minggu kehamilan
1. Pada kebanyakan kehamilan, janin mencapai posisi akhir saat 34 minggu kehamilan.
2. Saat kehamilan cukup bulan, hanya 3-4% presentasi janin berada pada posisi selain kepala.
3. Diskusikan pro dan kontra pelahiran bayi presentasi bokong melalui vagina dan seksio sesaria.
4. Rujuk ke dokter untuk mendiskusikan pilihan dan buat rencana. Versi ekstemal dapat diusahakan saat 37 minggu kehamilan bila primipara dan saat 38 minggu sampai cukup bulan bila multipara. Tindakan ini perlu dilakukan di rumah sakit, di bawah pengawasan USG, dengan pemantauan yang tepat pada ibu dan janin.

Pustaka
Obstetri dan ginekologi Panduan praktis Oleh Geri Morgan & Carole Hamilton

Minggu, 05 Desember 2010

Kamar Bersalin dan Pencegahan Infeksi

Kehamilan dan persalinan merupakan proses alami, namun bukannya tanpa risiko yang dapat menganeam keselamatan dan kesehatan bagi ibu dan janin yang akan lahir. Kehamilan dan persalinan diharapkan akan berakhir dengan kebahagiaan, yaitu ibu beserta janin yang dilahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat.Namun sebagian ibu menghadapi kegawatan dan kedaruratan yang dapat mengancam kesehatan, bahkan kematian.

Suatu kehamilan merupakan proses alami yang berjalan dari waktu ke waktu. janin tumbuh dalam rahim seorang ibu dengan harapan dapat tumbuh secara fisiologis dan dapat lahir melalui sebuah proses persalinan yang fisiologis pula. Namun pada kenyataannya tidak semua kehamilan dan persalinan dapat berjalan secara fisiologis, tetapi sebaliknya berjalan secara patologis sehingga sangat berisiko terhadap ibu serta janin yang akan dilahirkannya.

Kehamilan dan persalinan yang dinyatakan berisiko (patologis) sebaiknya diambil sebuah tindakan medis yang tepat dan cepat untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Bila proses persalinan berjalan secara patologis dan tidak dapat dilahirkan pervaginam, maka secepatnya diambil sebuah tindakan medis mclalui operasi/pembedahan Caesar, yaitu operasi mengeluarkan janin melalui dinding perut ibu. Tindakan ini harus dikeriakan di kamar bedah bukan di kamar bersalin.

Tindakan mengeluarkan/melahirkan janin melalui dinding perut (persalinan perabdominam) ini tentunya dengan indikasi yang kuat seperti adanya panggul sempit, plasenta previa, atau bentuk distosia lainnya, yang tidak memungkinkan janin lahir pervaginam. Demikian juga halnya dengan persalinan pervaginam, tidak selamanya berjalan dengan lancar dan banyak kendala yang harts dihadapi. Persalinan yang sulit (distosia) ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab misalnya tenaga untuk mendorong janin keluar kurang kuat, kelainan letak atau kelainan fisik janin, serta kemungkinan adanya kelainan jalan lahir.

Bila dalam perkembangan lebih lanjut, persalinan dengan penyulit-penyulit tersebut harus lahir dengan cara pervaginam, maka diperlukan adanya tindakan medis obstetri tertentu untuk segera dapat menyelamatkan ibu dan janin seperti:
a. pemanfaatan forsep atau vakum untuk ekstraksi;
b. tindakan versi ekstraksi;
c. episiotomi (yang paling sederhana);
d. plasenta manual;
e. embriotomi.

Kasus-kasus persalinan pervaginam yang diselesaikan dengan tindakan medis obstetri seperti di atas merupakan kasus persalinan pervaginam patologis, dari derajat yang ringan sampai derajat yang berat (sulit). Dalam hal ini perlu diwaspadai adanya berbagai komplikasi, baik terhadap ibu maupun terhadap janin seperti robekan scrviks yang akan menimbulkan perdarahan, laserasi pada dinding vagina yang teriadi pada ibu. Sedangkan pada janin/bayi teriadi laserasi pada kulit kepala, perdarahan bawah kulit (cephal hematoma) dan edema kulit kepala (caput succedaneum), bahkan terjadi fraktur pada tulang tertentu.

Berbagai bentuk trauma fisik pada ibu dan janin tersebut di atas dapat menimbulkan "luka terbuka" sebagai akibat adanya tindakan invasif manipulatif oleh alat dan tangan petugas. Luka terbuka ini merupakan pintu masuknya mikroba patogen dari luar yang tentunya akan menimbulkan masalah medis bagi ibu dan bayi yang baru lahir, serta sebagai parameter bagi manajemen pelayanan obstetri di kamar bersalin.

Adanya kondisi-kondisi di atas, rumah sakit yang besar memisahkan tempat pelayanan medis obstetri patologis dari tempat pelayanan medis obstetri fisiologis. Dengan demikian diperlukan minimal ada dua buah kamar bersalin, yaitu masing-masing untuk kasus obstetri fisiologis dan obstetri patologis serta kasus ginekologi dengan harapan dapat memperlancar pelayanan dan memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi silang.

Kamar Bersalin dan Permasalahannya
Kamar bersalin dapat diidentikkan dengan kamar bedah dalam skala yang lebih terbatas fungsi dan peralatannya, namun dalam masalah pengendalian infeksi harus tetap menjadikan perhatian yang sama. Pengarahan dan bimbingan psikologis terlebih dahulu harus dilakukan kepada penderita, mengingat tindakan medis obstetri yang akan dilakukan kepada penderita dalam keadaan sadar- Perlu diingat bahwa tindakan medis obstetris pada persalinan patologis pervaginam ini dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi regional/lokal dan cukup memakan waktu, sehingga diperlukan adanya kerja sama serta pengertian dari penderita (sikap kooperatif).

Sebuah kamar bersalin hendaknya dapat memenuhi sejumlah harapan berikut:
a. Bersih, cukup terang, lapang, tidak pengap, serta sejuk.
Kondisi ini akan berpengartth pada faktor psikologis ibu yang akan melahirkan. Sedangkan bagi petugas, kondisi ini akan membuat rasa nyaman saat menjalankan tugasnya.
b. Peralatan nonmedis yang ada di dalamnya sebatas peralatan yang dibutuhkan langsung dalam tindakan medis obstetri.
Kondisi ini akan menimbulkan kesan ruang kerja lapang dan mudah pada saat dibersihkan.
c. Petugas yang keluar dan masuk harus dibatasi.
Hal ini untuk mencegah kontaminasi dan infeksi silang di dalamnya.
d. Setiap selesai adanya tindakan medic obstetri, lebih-lebih untuk tindakan medis obstetri patologis, hendaknya kamar bersalin segera dibersihkan.
Hal ini untuk menghindari adanya sumber penularan bagi kasus berikutnya saat ruang kerja dimanfaatkan lagi.

Kesimpulan dari uraian di atas adalah kamar bersalin harus selalu dalam kondisi bersih dan siap-pakai untuk setiap saat, nyaman bagi ibu yang akan melahirkan, dan nyaman pula bagi petugas saat menjalankan kewajibannya.

Kamar bersalin adalah salah satu bagian dari unit kerja obstetri dan ginekologi sebuah rumah sakit yang fungsi dan perannya sangat penting untuk menolong persalinan atau melahirkan janin pervaginam. Terkait dengan masalah fungsi dan perannya ini, maka posisi unit kerja obstetri dan ginekologi, khususnya posisi kamar bersalin terhadap lay-out rumah sakit, letak idealnya tidak jauh dan kamar bedah dan instalasi sterilisasi, serta kamar/ruangan/bangsal perawatan pascapersalinan, tetapi harus jauh dari ruangan/bangsal penyakit menular. Hal ini penting sekali karna tindakan medis obstetri perlu waktu cepat, serta menuntut adanya tingkat sterilitas yang tinggi.

Daftar Pustaka
Infeksi Nosokomial Oleh Darmadi

Rabu, 01 Desember 2010

Safe Motherhood

Safe Motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya sehat dan aman, serta melahirkan bayi yang sehat. Tujuan upaya Safe Motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Upaya ini terutama ditunjukan pada negara yang sedang berkembang karena 99% kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara tersebut.

WHO mengembangkan konsep Four Pillars of Safe Motherhood untuk menggambarkan ruang lingkup upaya penyelamatan ibu dan bayi (WHO, 1994). Empat pilar upaya Safe Motherhood tersebut adalah keluarga berencana, asuhan antenatal persalinan bersih dan aman, dan pelayanan obstetri esensial.

1. Keluarga berencana. Konseling dan pelayanan keluarga berencana harus tersedia untuk semua pasangan dan individu. Dengan demikian, pelayanan keluarga berencana harus menyediakan informasi dan konseling yang lengkap dan juga pilihan metode kontrasepsi yang memadai, termasuk kontrasepsi darurat. Pelayanan ini harus merupakan bagian dari program komprehensif pelayanan kesehatan reproduksi. Program keluarga berencana memiliki peranan dalam menurunkan risiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan, dan menjarangkan kehamilan.

2. Asuhan antenatal. Dalam masa kehamilan:
a. Petugas kesehatan harus memberi pendidikan pada ibu hamil tentang cara menjaga diri agar tetap sehat dalam masa tersebut.
b. Membantu wanita hamil serta keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran bayi.
c. Meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya risiko tinggi atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan/ persalinan dan cara mengenali komplikasi tersebut secara dini. Petugas kesehatan diharapkan mampu mengindentifikasi dan melakukan penanganan risiko tinggi/komplikasi secara dini serta meningkatkan status kesehatan wanita hamil.

3. Persalinan bersih dan aman. Dalam persalinan:
a. Wanita harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara menolong persalinan secara bersih dan aman.
b. Tenaga kesehatan juga harus mampu mengenali secara dini gejala dan tanda komplikasi persalinan serta mampu melakukan penatalaksanaan dasar terhadap gejala dan tanda tersebut.
c. Tenaga kesehatan harus siap untuk melakukan rujukan kom
plikasi persalinan yang tidak dapat diatasi ke tingkat pelayanan
yang lebih mampu.

4. Pelayanan obstetri esensial. Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan 'untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan/persalinan.
Secara keseluruhan, keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan primer. Dua di antaranya, yaitu asuhan ante-natal dan persalinan bersih dan aman, merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. Sebagai dasar/fondasi yang dibutuhkan untuk menca-pai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan wanita.

Ada dua alasan yang menyebabkan Safe Motherhood perlu mendapat perhatian. Pertama, besarnya masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta dampak yang diakibatkannya. Data menunjukkan bahwa seperempat dari wanita usia reproduktif di negara berkembang mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini sangat besar, baik bagi keluarga, masyarakat, maupun angkatan kerja di suatu negara. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak utama untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu bencana bagi keluarganya. Kedua, Safe Motherhood pada hakikatnya merupakan intervensi yang efisien dan efektif dalam menurunkan angka kematian ibu.

Pustaka

Kebidanan Komunitas Oleh Safrudin, SKM, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes

AIDS dan ANC

Salah satu cara penularan HIV yang sudah kita kenal adalah melalui Ibu hamil yang sero+ ke bayinya. Penularan secara vertikal ini dapat terjadi baik in uteri, (di dalam kandungan), selama persalinan, maupun segera setelah bayi lahir. Meskipun risiko penularan HIV intero berkisar antara 30-40%, tetapi dampaknya secara medic dan psikososial tidak dapat begitu saja diabaikan. Untuk mendeteksi Ibu-ibu hamil yang sero+ jelas bukan pekerjaan mudah, tetapi juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Secara etis mereka harus diberikan konseling. Dengan kata lain, masih diperlukan kebijakan pelayanan ANC (Ante natal care) yang berbeda dari biasanya. Bahkan deteksi dinipun seharusnya sudah dilakukan untuk Ibu-ibu PUS yang belum hamil. Dengan berkembangnya masalah AIDS, peranan ANC akan menjadi lebih penting.

Klinik KB yang juga sering merangkap sebagai klinik bersalin nampaknya dapat dijadikan lokasi sentinel untuk mendeteksi secara dini dan intensif adanya penyebaran infeksi HIV di kalangan ibuibu PUS. Oleh karenanya, klinik-klinik KB/bersalin sudah perlu mulai dipersiapkan untuk mengantisipasi masalah ini. Pertanyaannya sekarang:

Sejauh mana kewenangan dan kapasitas BKKBN mendeteksi ibu-ibu hamil yang sero+ di klinik KB/bersalin di seluruh Indonesia mengingat masih rendahnya cakupan dan tingkat keteraturan ibu-ibu hamil melakukan ANC dan besarnya variasi kemampuan dan peralatan yang tersedia di klinik-klinik bersalin?
Apakah cukup hanya dengan merujuk saja?
Apakah BKKBN akan mengubah kebijaksanaan pelayanannya kearah masalah ini?
Bukankah ibu-ibu yang sero+ dan melahirkan bayi pengidap AIDS akan mengganggu kesejahteraan keluarganya?
Bagaimana halnya dengan strategi gerakan KB di Indonesia yang menjadikan "Keluarga Sejahtera" sebagai sasaran utama program kependudukan dan gerakan KB nasional?


Pustaka
AIDS di Indonesia: masalah dan kebijakan penanggulangannya

Topik

Penyakit ObsGin (56) Kasus Obgin (43) Perawatan Obstetri (42) kehamilan (27) persalinan (27) Pelayanan Kesehatan Obtetri Ginekologi (21) Kedaruratan Ginekologi (20) Bedah Ginekologi (17) vagina (15) ibu hamil (14) janin (13) Anatomi Obstetri Ginekologi (12) infeksi (11) pertolongan persalinan (11) wanita hamil (11) plasenta previa (10) plasenta (9) proses persalinan (9) bayi (8) bidan (8) menstruasi (8) seksio sesarea (8) Vulva (7) hubungan seksual (7) informed consent (7) pembuluh darah (7) well born baby (7) Serviks (6) asfiksia (6) diabetes melitus (6) distosia (6) endometrium (6) muntah (6) ovarium (6) perineum (6) ultrasonografi (6) usia kehamilan (6) Amnion (5) Syok (5) abortus (5) atonia uteri (5) berat badan (5) estrogen (5) hipertensi (5) medis (5) menarche (5) peritonitis (5) rahim (5) uterus (5) wanita (5) well health mother (5) ASI (4) KPD (4) Ketuban Pecah Dini (4) Primigravida (4) Solusio Plasenta (4) air susu ibu (4) amenore (4) anamnesis (4) antibiotik (4) diagnosis (4) ginekologi (4) hiperemesis gravidarum (4) intervensi (4) kanker serviks (4) kematian ibu (4) kolostrum (4) kontraksi otot (4) melahirkan (4) metabolisme (4) multipara (4) oligohidramnion (4) ovulasi (4) payudara (4) pelayanan kesehatan (4) pengobatan (4) penyakit kandungan (4) pre eklampsia (4) sepsis (4) tekanan darah (4) tumor ovarium (4) usg (4) HIV (3) Hamil Anggur (3) Mola Hidatidosa (3) Morbiditas (3) Mortalitas (3) Perdarahan Antepartum (3) Polihidramnion (3) Preeklamsia (3) Retensio Plasenta (3) Robekan Perineum (3) angka kematian ibu (3) antibiotika (3) aterm (3) berat badan lahir rendah (3) biopsi (3) dehidrasi (3) dispareunia (3) dukun beranak (3) emesis (3) endokrin (3) episiotomi (3) gangguan haid (3) genitalia (3) ginjal (3) hemoroid (3) hidramnion (3) himen (3) histerektomi (3) induksi persalinan (3) infeksi hiv (3) infertilitas (3) kehamilan ektopik (3) kehamilan ganda (3) kelahiran anak (3) kelainan kromosom (3) kemandulan (3) kematian bayi (3) lendir (3) melahirkan bayi (3) mioma uteri (3) nyeri (3) obat obatan (3) patologi anatomi (3) pemeriksaan abdomen (3) penyakit jantung (3) peredaran darah (3) progesteron (3) rektum (3) rumah sakit (3) sectio caesarea (3) sel telur (3) sindrom (3) tiroid (3) tulang belakang (3) uteri (3) AIDS (2) ASI eksklusif (2) Aborsi (2) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (2) Amniosentesis (2) Bunyi jantung janin (2) Contraction stress test (2) DJJ (2) EVALUASI (2) Edema (2) Gawat janin (2) Hipotensi berat (2) IUD (2) IUS (2) Inversio Uteri (2) Kanker Rahim (2) Kasus Kedaruratan Ginekologi (2) Ketuban pecah (2) Kontrasepsi (2) Korion (2) Mual (2) Multigravida (2) Partograf (2) Perdarahan post partum (2) Plasenta Manual (2) SOAP (2) abnormal (2) air hangat (2) alergi (2) analisis fase luteal (2) analisis hormonal (2) analisis sperma (2) anamnesa (2) angka kematian ibu dan bayi (2) asuhan antenatal (2) awal kehamilan (2) bakteri patogen (2) bartholin (2) buah anggur (2) bunyi jantung (2) cairan dan elektrolit (2) cairan tubuh (2) cervix (2) denyut jantung (2) depo provera (2) depresi (2) dokter (2) dokumentasi kebidanan (2) epidural (2) fibrinogen (2) gejala (2) gizi ibu hamil (2) haid (2) hamil (2) harapan hidup (2) hipofisis (2) hipotensi (2) hirsutisme (2) hormon (2) hydramnion (2) ibu dan bayi (2) imunisasi (2) infertil (2) infus (2) intrapartum (2) kanker (2) kanker payudara (2) kebidanan (2) kelahiran (2) kelahiran bayi (2) keluarga berencana (2) kematian (2) kematian janin (2) kesuburan (2) kista (2) konsultasi (2) kortikosteroid (2) leukorea (2) lingkungan (2) malnutrisi (2) masa kehamilan (2) mastalgia (2) membran (2) mencegah kehamilan (2) meninggal dunia (2) menyusui (2) merokok (2) metronidazol (2) myoma (2) nekrosis (2) neonatus (2) obstetri dan ginekologi (2) oxytocin (2) pap smear (2) pelayanan medis (2) pelepasan prematur plasenta (2) pelvis (2) penilaian ovulasi (2) penyakit keturunan (2) penyakit malaria (2) perdarahan (2) perinatal (2) perkawinan (2) perkembangan bayi (2) perkembangan janin (2) pernapasan (2) pertumbuhan janin (2) pethidine (2) pil kb (2) pneumonia (2) proses kelahiran (2) prostaglandin (2) pubertas (2) puting susu (2) radiasi (2) rasional (2) sakit kepala (2) sanggama (2) seksual (2) sesak napas (2) sinus urogenital (2) sungsang (2) susu formula (2) syok hipovolemik (2) tekanan (2) teknologi kedokteran (2) tempat tidur (2) tenaga kesehatan (2) tentang kehamilan (2) terapi antibiotik (2) testosteron (2) tipis (2) trombosit (2) tuba (2) tuberkulosis (2) tumbuh kembang bayi (2) tumor (2) vaksin (2) vasa previa (2) 10 Langkah Menuju Rumah Sakit Sayang Bayi (1) ABC (1) AKDR (1) Abortus provocatus (1) Abrupsio Plasenta (1) Amniocentesis (1) Amniotomi (1) Antenatal Screening (1) Aspek hukum dari tindakan abortus buatan (1) Bahaya mioma terhadap kehamilan (1) Beberapa tanda yang menunjukkan kehamilan ganda (1) Bentuk plasenta yang tidak serasi (1) CMI Tender Touch (1) CST (1) Cancer Surgery (1) Cara melakukan IMD (1) Cervidil (1) Changing Childbirth (1) Chorionic Villous Sampling (1) Cystotec (1) DIC (1) Diabetes maternal (1) Diameter biparietalis (1) Diameter bitemporalis (1) Diameter occipitofrontalis (1) Diameter submentobregmatica (1) Diameter suboccipitobregmatica (1) Diameter verticomentalis (1) Doppler Warna dan Berpulsa (1) Early rupture of membrane (1) Edema Vulva (1) Endometrial Cancer (1) Episode depresi pascanatal (1) Eritroblastosis fetalis (1) Estriol urine (1) Female Pelvic Anatomy (1) Gambaran klinik tetanus neonatorum (1) Gambaran klinis depresi pascanatal (1) Gangguan hormon (1) Glomerulonefritis (1) Gum disease (1) Haid Abnormal (1) Hematokrit (1) Hematoma Vagina (1) Hematoma vulva (1) Hiperoksigenasi (1) Hitung Leukosit (1) Hormon Chorionic Gonadotropin (1) IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA (1) IMD Setelah Bedah Cesar (1) IMPLEMENTASI (1) IUD copper (1) IUGR (1) Imunoglobulin Anti-D (1) Indikasi Episiotomi (1) Indung Telur (1) Infark plasenta (1) Infeksi Pelvis (1) Infeksi Toksoplasma (1) Infertilitas sekunder (1) Inkompatibilitas rhesus (1) Inkompetensi serviks (1) Inkontinensia Uteri (1) Insulisiensi placenta (1) Intra Uterine System (1) Istilah Kebidanan (1) Jenis pemeriksaan Mola Hidatidosa (1) Kasus hamil anggur (1) Kauterisasi tuba falopii (1) Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri (1) Kehamilan prekoks (1) Kelahiran dengan berat bayi lahir rendah (1) Kelainan Air Ketuban (1) Kelainan kelenjar pankreas (1) Kelainan kelenjar tiroid (1) Kelainan kongenital (1) Kerugian Kontap (1) Keuntungan Episiotomi (1) Keuntungan Kontap (1) Konsep Dasar Asuhan Antenatal (1) Konsep rooming in (1) Kontrasepsi IUD (1) Kordosentesis (1) Korioangioma (1) Kurangi aktivitas uterus (1) Kutil vulva (1) Leiomioma Degenerasi Merah (1) Lingkup asuhan kebidanan (1) Lobus succenturiate (1) Malaria berat (1) Manfaat IMD (1) Masa pemulihan (1) Memperbaiki fungsi kerja organ-organ tubuh (1) Mengurangi tekanan pada janin (1) Metode kuretase (1) Metode tindak lanjut (1) MgSO4 (1) Mixedema (1) Mola kruenta (1) Mola tuberosa (1) Morbus basedowi (1) Nilai Skor Bishop (1) Observasi bayi (1) P3 (1) PASG (1) PID (1) Parametritis (1) Partus Terlantar (1) Partus kasep (1) Partus lama (1) Pastikan diagnosis (1) Pelvic Lymphadenectomy (1) Pembengkakan vulva (1) Pemeriksaan Fisik (1) Penapisan Antenatal (1) Pengobatan Hamil Anggur (1) Pengukuran-serf ultrasonik (1) Penyakit gusi (1) Penyakit sinaga (1) Perbaiki hipotensi (1) Perbaiki ketidakseimbangan metabolik (1) Perdarahan Kanker Serviks (1) Persalinan percobaan (1) Pil KB Kombinasi (1) Plasenta berbentuk cincin (1) Plasenta bipartite (1) Plasenta ekstrakorialis (1) Plasenta fenestrasi (1) Plasenta sirkummarginal (1) Plasenta sirkumvalata (1) Postmortem caesarean (1) Posyandu (1) Primum noncere first do no harm (1) Prinsip dasar kehamilan dan mioma uterus (1) Prolaps Uteri (1) Prolapsus litniculus umbilicalis (1) Pruritus vulva (1) Radical Hysterectomy (1) Radical vaginal trachelectomie (1) Referensi teknik pemeriksaan fisik (1) Rekanalisasi Kontap (1) Riwayat Kesehatan (1) Riwayat haid (1) SC (1) Salpingo-ooforitis (1) Sasaran pengembangan desa siaga (1) Seksio sesarea pada kombinasi hamil dan mioma uteri (1) Siapkan tenaga keadaan darurat (1) Sikatriks Vulva (1) Sindroma Down (1) Sindroma HELLP (1) Spermatogenesis defektif (1) Suhu (1) Suhu Basal Tubuh (1) Suntik KB (1) Susuk KB (1) Teknologi Obstetri (1) Terapi hormon (1) Test nonstress (1) Toksikum eritema (1) Torsi tumor adneksa (1) Trachelectomie (1) Trauma dada (1) Trisomy 13 (1) Trisomy 18 (1) Trombosis pembuluh darah janin (1) Tujuan rumah sakit sayang bayi (1) Tujuan umum desa siaga (1) Tumor Adneksa Permagna (1) Ubah posisi ibu (1) Varises vena (1) WHO (1) abdomen (1) abdominal contents (1) ablasio plasenta (1) abortus spontan (1) adrenalin (1) aerobik (1) aesculapius (1) agenesis (1) air bersih (1) alkoholik (1) allantois (1) american cancer society (1) amniosintesis (1) ampicillin (1) ampul (1) ampula (1) anabolik (1) analgesik (1) anc (1) androgen (1) andrologi (1) anemia (1) anemia berat (1) anemia pada ibu hamil (1) aneuploidi (1) angka kematian (1) angka kematian bayi (1) anomali (1) anomali kongenital (1) anovulatoir (1) ante natal care (1) antenatal care (1) anti hipertensi (1) antihistamin (1) antineoplastic agents (1) apotek (1) apusan Papanicolaou (1) areola (1) asam basa (1) asfiksia neonatorum (1) asinklitismus (1) asites (1) asma (1) aspirasi pneumonia (1) aspirin (1) aturan Nagele (1) ayah (1) ayurvedic college (1) bartolin (1) batasan (1) batuk (1) bayi bayi (1) bayi kembar (1) bcg (1) benadryl (1) berat badan bayi (1) berenang (1) berhenti merokok (1) bersih dan sehat (1) bina keluarga balita (1) bkkbn (1) blighted ovum (1) blood sampling (1) bnf (1) bokong (1) breech presentation (1) broad spectrum antibiotics (1) buah buahan (1) bunuh diri (1) cacar air (1) cacat bawaan (1) cacing tambang (1) cairan (1) calcitonin gene (1) caput succedaneum (1) carcinoma (1) cedera saraf kranialis (1) cemas (1) cephal hematom (1) cervical cancer (1) charting by exception (1) chignon (1) chorioamnionitis (1) chorionic gonadotropin (1) ciri (1) ciri-ciri desa siaga (1) clostridium welchii (1) complete mole (1) cross match (1) ct scan (1) ctg (1) cuci tangan (1) cul de sac (1) curcuma domestica (1) daging (1) darurat (1) decrement (1) demam (1) demam berdarah (1) demerol (1) depot medroxyprogesterone acetate (1) desa siaga (1) desidua (1) developmental disorder (1) dewa (1) diagnosis tuba falopii (1) diameter kepala janin (1) diazepam (1) dilator (1) displasia (1) distosia bahu (1) distribusi (1) dna (1) dokter anak (1) donor darah (1) doptone (1) downward trend (1) dystocia (1) early pregnancy factor (1) ekstraksi (1) ekstrauterin (1) emansipasi wanita (1) emboli (1) emosi (1) endometriosis (1) endometritis (1) ensefalitis (1) enukleasi mata (1) epididimis (1) epinefrin (1) ergometrine (1) ergotrate (1) eritrosit (1) erythroblastosis (1) erythromycin (1) escherichia coli (1) etik (1) etika profesi (1) evaporasi (1) evisceration (1) fecal odor (1) fenomena tromboembolik (1) fetal alcohol effects (1) fetal alcohol syndrome (1) fetal heart rate (1) fetoscope (1) fibrosis (1) figure of eight (1) filament nylon (1) filsafat (1) fimbriae (1) fistula (1) flowsheet (1) foetus compressus (1) foetus papyraceus (1) footling presentation (1) formalin (1) formula 3 (1) fosfor (1) four pillars (1) frank breech (1) freenulum linguae (1) frekuensi (1) fsh (1) ft3 ft4 (1) fundus (1) fungsi ginjal (1) funiculus (1) gagal ginjal (1) galaktosa (1) gangguan asam-basa (1) gangguan metabolisme (1) gangguan pernapasan (1) gap junction (1) gas exchange (1) gejala kanker rahim (1) gejala kehamilan (1) gelombang bunyi (1) genetalia (1) genetika (1) genital (1) gerakan janin (1) gizi dan istirahat (1) gizi masyarakat (1) glukosamin (1) gram negatif (1) granulosa (1) gula garam (1) halotan (1) hambatan pertumbuhan janin (1) hamil di luar nikah (1) handuk (1) hari pertama haid terakhir (1) health (1) hemangioma (1) hemangioma plasenta (1) hematoma (1) herbal vitamin (1) herpes (1) herpes genitalis (1) herpes simpleks (1) hidrosefalus (1) high risk pregnancy (1) hiperkeratosis (1) hiperplasia (1) hipertensi kehamilan (1) hipertiroidismus (1) hipnotis (1) hipoglisemia (1) hipoksia (1) hipotermia (1) hipotiroidismus (1) hipovolemia (1) histamin (1) holistik (1) hormon estrogen (1) hormon levonorgestrel (1) hormon tiroid (1) hpv (1) hubungan dokter (1) hukum (1) human being (1) hymen (1) ibu kartini (1) ibu melahirkan (1) ilmu kebidanan (1) ilmu pengetahuan dan teknologi (1) immunoassay (1) impending eklamsia (1) increment (1) induction of labor (1) indurasi (1) infeksi saluran kemih (1) infiltrasi (1) inseminasi buatan (1) insulin diabetes (1) intestinal peptide (1) intra uterine growth retardation (1) iud paragard (1) jagung (1) jantung (1) jaringan epitel (1) journal of obstetrics (1) kalangan remaja (1) kanker endometrium (1) kardiovaskular (1) kariotipe (1) kateter (1) kateter Foley (1) kawin (1) keamanan (1) kecemasan (1) keguguran (1) kehamilan kembar (1) kehamilan pada remaja (1) kehamilan pertama (1) kejang otot (1) keju (1) kekurangan kalsium (1) kekurangan vitamin (1) kelainan serebrovaskular (1) kelamin (1) kelenjar hipofisis (1) kelenjar pituari (1) kelenjar tiroid (1) kemaluan (1) kematian bayi baru lahir (1) kematian ibu hamil (1) kembar siam (1) kemoterapi (1) keperawatan (1) kepribadian (1) keputihan (1) keracunan kehamilan (1) kernikterus (1) kesehatan (1) kesehatan bayi (1) kesehatan lingkungan (1) kesehatan masyarakat (1) kesehatan reproduksi (1) keseimbangan cairan dan elektrolit (1) kista ovarium (1) kistadenokarsinoma serasa (1) klamidia (1) klinik (1) klinik bersalin (1) klitoris (1) klostridium tetani (1) kolagen (1) koma (1) komplit (1) konduksi (1) konsepsi (1) konsultasi dokter (1) kontrasepsi hormonal (1) konveksi (1) korioamnionitis (1) korona radiata (1) korpus (1) korteks (1) kreatinin (1) kromosom (1) kronik (1) kronis (1) kualitas hidup (1) kurang darah (1) kurang gizi (1) kuret (1) kutukan (1) labia mayora (1) labia minora (1) laboratorium (1) lactobacilus (1) lafal sumpah dokter (1) laki laki (1) laktosa (1) laminaria stift (1) lasenta membranosa (1) lepra (1) liberalisasi (1) lintah (1) lokia (1) lumen (1) luteinizing hormone (1) magnetic resonance imaging (1) makanan bergizi (1) makanan tambahan (1) malaria (1) malaria falciparum (1) malaria kongenital (1) malaria serebral (1) malpraktek (1) masa nifas (1) masalah kehamilan (1) masker bag-valve (1) maternity care (1) maturitas (1) medroxyprogesterone (1) megap (1) meig (1) meig syndrome (1) mekonium (1) meneteki (1) mengandung (1) menghisap (1) menikah (1) meningitis (1) menometroragia (1) menopause (1) menorrhagia (1) merangsang (1) metabolisme tubuh (1) metastasis (1) metil salisilat (1) metode kontrasepsi (1) midwifery (1) mielin (1) migrain (1) migren (1) minyak kelapa (1) misoprostol (1) mobilitas (1) mongolisme (1) moniliasis (1) mood swing (1) morning sickness (1) mortality rate (1) moulage (1) multiple pregnancy (1) mulut (1) national maternity hospital (1) natrium (1) neglected labour (1) neisseria gonorrhoeae (1) neuralgia (1) nimo (1) non stress test (1) nutrisi (1) nutrisi untuk janin (1) nyaman (1) nyeri haid (1) nyeri otot (1) nyeri persalinan (1) nyeri punggung (1) obat kencing manis (1) oksitosin (1) olahraga (1) oligospermia (1) ostium (1) ostium uteri internum (1) otot (1) ovariotomi (1) overstreet (1) ovulatoir (1) parametrium (1) parathyroid (1) parathyroid hormone-related peptide (1) pars (1) partial mole (1) partogram (1) partus (1) pasca (1) patogen (1) pelecehan seksual (1) pelvic inflammatory disease (1) pemasangan chest tube (1) pembekuan darah (1) pembengkakan payudara (1) pembiakan (1) pemeriksaan bakteriologi (1) pemeriksaan pap smear (1) pendarahan (1) pendarahan rahim abnormal (1) pendarahan spontan (1) penelitian (1) pengetahuan (1) pengobatan alternatif (1) penicillin (1) penisilin (1) penyakit (1) penyakit diabetes (1) penyakit diare (1) penyakit genitalia (1) penyakit gula (1) penyakit infeksi (1) penyakit kanker (1) penyakit kencing manis (1) penyakit menular seksual (1) penyakit paru paru (1) penyakit psikiatrik pascanatal (1) penyebaran infeksi (1) penyediaan air bersih (1) perawatan bayi (1) perawatan paliatif (1) perawatan tali pusat (1) perdarahan aksidental (1) perhiasan (1) perilaku seksual remaja (1) perimenopause (1) perinatologi (1) perineotomi (1) peritonium (1) perkembangan janin dalam rahim (1) persalinan lama (1) persalinan per vaginam (1) persalinan prematuritas IUGR (1) persalinan terlantar (1) pertumbuhan tulang (1) pertumhuhan janin terhambat (1) perut (1) pheromones (1) pitocin (1) placenta (1) plasenta difusa (1) plasenta dwilobus (1) plasenta letak rendah (1) plasmodium falciparum (1) pneumatic anti-shock garment (1) polip (1) polip endometrium (1) portio (1) posisi (1) preeklamsi berat (1) prematur (1) premature rupture of membrane (1) prevost (1) pria (1) primipara (1) progestin (1) program Kontap (1) prolaktin (1) proses kehamilan (1) proses menstruasi (1) proses penyembuhan luka (1) prostaglandin e2 (1) protein c (1) protrusion (1) psikolog (1) psikologi (1) pt ptt (1) pubarche (1) pubis (1) puerperalis (1) puerperium (1) puting (1) radang (1) radang paru paru (1) radiologi (1) rawat inap (1) refleksologi (1) releasing hormone (1) reproduksi (1) resiko (1) resistensi insulin (1) resusitasi (1) rhesus negatif (1) rhesus positif (1) rhogam (1) rigor mortis (1) rileks (1) ringer laktat (1) riwayat menyakiti diri sendiri (1) rubela (1) rumah tangga (1) ruptur (1) safety efficacy (1) saluran napas (1) saluran reproduksi (1) sarkoma (1) sarung tangan (1) savlon (1) sayuran (1) seks pranikah (1) selaput dara (1) sensitif (1) sepeda (1) septum (1) serebral palsi (1) sesak nafas (1) siklus kreb (1) siklus menstruasi (1) sindrom pre-baby blues (1) sindroma Edward (1) sindroma Patau (1) sintosinon (1) sistem pembiayaan kesehatan (1) sistem reproduksi (1) snow flake (1) solusio Burowi (1) sonicaid (1) specimen (1) spermatozoa (1) standar profesi (1) status asmatikus (1) stein leventhal (1) steril (1) sterilisasi (1) stetoskop (1) stetoskop Pinard (1) stomata (1) streptomycin (1) suhu tubuh (1) sumpah dokter (1) suprarenal (1) susu buatan (1) susu ibu (1) tali pusat (1) tanda Naujoke (1) tanda Spalding (1) target goal (1) tay sachs (1) tbc (1) tekanan hidrostatik (1) tekanan intrakranial (1) tekanan osmotik (1) teknologi (1) telapak (1) telarche (1) telor (1) tempat penitipan anak (1) tenaga kerja (1) tengkorak janin (1) terapi (1) termometer (1) test mantoux (1) testis (1) tetanus neonatorum (1) tidur (1) tifus (1) tinospora crispa (1) tokoh kedokteran (1) trakeostomi (1) transfusi darah (1) transvaginal (1) transverse incision (1) trauma (1) treponema pallidum (1) trial of labor (1) trofoblas gestasional (1) tromboflebitis (1) trombosis (1) tumor ganas (1) uji pasca-sanggama (1) ujian darah (1) ujian kompetensi dokter (1) ukcc (1) ukuran payudara (1) ulkus (1) ureter (1) uretra (1) urologi (1) usus buntu (1) uteritonika (1) uterus bikornu (1) vakum (1) vanished twin (1) variabel (1) varikokel (1) vascular bed (1) vasektomi (1) vasoactive intestinal peptide (1) vili korialis (1) virus hpv (1) virus penyakit (1) visera (1) vitamin yang larut dalam lemak (1) vlek (1) vulvar disease (1) waktu subur perempuan (1) wanita bersalin (1) wbc (1) wound closure (1) wound dehiscence (1) yunani (1) zoster (1)